Gunung Salak Mirip Segitiga Bermuda ?

Koordinator Rescue PT Dirgantara Indonesia Bambang Munardi menduga Sukhoi Superjet-100 jatuh karena masuk ruang hampa,  di ketinggian antara 10.000 kaki sampai 6000 kaki.

“Turun drastis dalam waktu relatif singkat, sangat sulit pesawat bertahan dalam kondisi itu,” ujarnya. Dalam kondisi itu, pilot pesawat harus punya keahlian khusus menstabilkan pesawat. Tentu, pesawat juga harus punya teknologi mengatasi masalah ini.

Keberadaan ruang hampa, dan fakta sejumlah instrumen pesawat tak bekerja, memunculkan spekulasi adanya medan magnet besar di sekitar Gunung Salak.Mirip seperti di Segitiga Bermuda, kawasan garis imajiner antar tiga wilayah yaitu Bermuda, San Juan – Puerto Rico, dan Miami, yang menjadi “kuburan” puluhan kapal dan pesawat .

Tapi dugaan itu dibantah Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono. Dia mengatakan, pesawat yang melintas di atas gunung lalu masuk ke ruang hampa udara, bisa saja karena adanya tekanan awan dan angin yang begitu kencang.

“Faktor angin di atas ketinggian gunung tersebut,  menjadi penyebab pesawat berada di ruang hampa  udara, jadi bukan karena magnet bumi atau apa yang  disebut ‘Segitiga Bermuda’,” kata Surono.

Ahli geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Brahmantyo punya pendapat serupa. Medan magnet di Gunung Salak tidaklah luar biasa.  Seandainya Sukhoi itu celaka akibat medan magnet, maka dahsyat tarikannya akan mempengaruhi daerah sekitarnya. “Kayaknya akan terjadi gempa, dan bahkan menara di Gunung Salak akan tersedot medan magnet,” dia menambahkan.  Tapi yang terjadi tidaklah demikian.

Budi menambahkan, jatuhnya Sukhoi di Bogor mungkin disebabkan oleh tekanan udara berubah begitu cepat di atas kawah. “Itu pandangan saya secara geologi,” kata dia.

Pesawat nahas itu sendiri, seperti dikemukakan Pemerintah Rusia, dalam kondisi baik saat terbang. Mereka yakin tragedi itu akibat faktor manusia. “Para ahli bilang semua perlengkapan berfungsi baik,” kata Wakil Perdana Menteri Rusia, Dmitry Rogozin, seperti dikutip Ria Novosti, Kamis 10 Mei 2012. “Dengan kata lain, ini disebabkan oleh kesalahan manusia.”

Menurut Rogozin, Sukhoi yang diproduksi sejak 2007 ini adalah pesawat kompetitif, bermasa depan cerah. Penyebab kecelakaannya di Gunung Salak pun masih gelap. Komite Investigasi Rusia akan menelisik setiap kemungkinan: dari persiapan kru pesawat sampai kondisi teknis pesawat. Terutama,  sebelum dia dikirim dari negeri beruang es itu ke Indonesia

Maut di Gunung Salak
Gunung Salak memiliki tiga puncak: Salak I dengan ketinggian 2.211 meter, Salak II 2.180 meter, dan Puncak Sumbul berketinggian 1.926 meter. Sejatinya ia bukan gunung yang tinggi. Tapi medannya cukup berat.

Rafiq Pontoh, ahli SAR mengerti benar soal itu. Pada 1987 lalu, ia pernah mengevakuasi jasad 6 pendaki gunung, di lokasi persis sama. “Untuk turun saja butuh waktu minimal 5 jam sampai ke Loji atau Pasir Pogor. Itu pengalaman kami dulu,” kata dia kepada tvOne. Kondisi dipersulit karena tim evakuasi harus mengangkut jasad korban.

Hingga Jumat malam, soal alam masih menjadi kendala utama. Danrem 061 Badak Putih, Kol Infantri AM Putranto mengatakan, jasad para korban sudah dimasukkan ke 12 kantong jenazah. Enam sudah dibawa ke posko, sisanya masih di lembah. Evakuasi lewat darat lebih mungkin ketimbang udara. Dibawa berantai sampai Posko Embrio, lalu diterbangkan dengan helikopter ke Halim.

Lalu mengapa kecelakaan pesawat kerap terulang di sekitar Gunung Salak?

Soalnya tragedi mirip Sukhoi itu bukanlah pertama.  Pada 10 Oktober 2002, Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor, satu orang tewas.

Setahun kemudian, 29 Oktober 2003, giliran helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Bogor. Tujuh orang tewas kala itu.

Pada 2004, ada dua kecelakaan maut di Gunung Salak. Pertama, 15 April 2004, dialami pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport. Dua tewas saat pesawat  jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Kecelakaan kedua di tahun itu terjadi 20 Juni 2004. Lima tewas saat pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, Cijeruk.

Tiga tahun kemudian, Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut pada 26 Juni 2008. Sebanyak 18 nyawa melayang. Lalu, nahas kembali terjadi, menimpa pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug yang jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor pada 30 April 2009. Tiga orang tewas.

Pada Rabu 16 November 2011, pesawat Cessna C 172 milik PT Nusa Flying International School. Pesawat itu ditemukan dua pekan kemudian, tepatnya 29 November 2011. Tiga awak pesawat, M. Fikriansyah (19) dan Agung Febrian (30) ditemukan tewas dalam bangkai pesawat.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mengakui, pihaknya baru kali ini menyelidiki kecelakaan pesawat di Gunung Salak. “Jadi, kami belum bisa katakan seperti apa penyebabnya,” kata dia kepada VIVAnews.com.

Soal faktor penyebab dari Gunung Salak, Tatang mengatakan, itu mungkin dipengaruhi ketinggiannya. “Dari laut itu masuk angin bebas, terbentur sama gunung itu, lalu turun ke bawah masuk Bogor. Untuk lebih jelasnya tanya sama bagian metereologi,” dia menambahkan.

Gunung Salak memang rawan. Pengamat penerbangan Suharto Madjid mengatakan di sana ada kondisi yang secara ilmiah ekstrem. “Apakah itu akumulasi listrik maupun angin,” kata dia.

Di topografi Jawa Barat, bukan hanya Gunung Salak yang rawan. Dalam 30 tahun terakhir, selain Gunung Salak, juga Gunung Ciremai, Kawasan Gunung Halimun.  Kawasan itu, lanjut dia, sering diselimuti kabut tebal. Kerap ada pesawat hilang kontak dan lenyap dari radar.

“Memang beberapa gunung tertentu cukup rawan bagi jalur penerbangan. Seperti kalau di Medan itu di Bahorok, ada angin Bahorok,” katanya.

Betapapun, kata dia, jalur penerbangan harus memperhatikan ketinggian gunung, kondisi angin dari samping, dan potensi hujan lokal. “Seperti di pegunungan Jabar, kalau turun kabut bisa mengurangi jarak pandang. Kalau terbang rendah bisa menabrak gunung. Karena untuk manuver menghindar, butuh waktu, jarak yang cukup. Itu yang sering dialami oleh para pilot kita,” kata dia.

Pantauan satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN),  terdapat awan columbus tebal yang aktif saat pesawat Sukhoi melintas Gunung Salak sekitar pukul 14.33 WIB. Data satelit mencatat Gunung Salak tertutup awan hingga 100 persen. Indeks konveksi sekitar 30, yang berarti lokasi itu sedang disiram hujan. Artinya, cuaca buruk membungkus Salak.

 

Comments are closed.
%d bloggers like this: