Pengumuman Kelulusan UN SMP 2012 Provinsi Jawa Tengah

Tingkat kelulusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Jawa Tengah pada tahun ini mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen, dibandingkan kelulusan jenjang yang sama pada tahun lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Jateng Kunto Nugroho di Semarang, Jumat, menyebutkan bahwa tingkat kelulusan pada tahun ini mencapai 99,15 persen, meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 99,04 persen.

Ia menyebutkan bahwa pelaksanaan ujian nasional (UN) SMP dan sederajat pada tahun ini diikuti sebanyak 501.247 siswa dari 4.642 sekolah, sedangkan siswa yang dinyatakan tidak lulus sebanyak 4.220 siswa.

Peserta UN SMP dan sederajat sebanyak itu, kata dia, terbagi atas 382.534 siswa SMP dengan 2.801 siswa tidak lulus, kemudian madrasah tsanawiyah (MTs) sebanyak 114.737 siswa dengan 767 siswa yang tidak lulus.

Sementara untuk jenjang SMP terbuka, ia menyebutkan bahwa jumlah peserta yang mengikuti UN tahun ini mencapai 5.976 siswa, sebanyak 3.324 siswa dinyatakan lulus dan siswa yang tidak lulus sebanyak 652 orang.

Menurut dia, tidak ada satu pun sekolah yang memiliki tingkat kelulusan nol persen pada tahun ini sehingga membuktikan bahwa penyelenggaraan proses pendidikan dan persiapan UN oleh sekolah dilakukan secara maksimal.

Berkaitan dengan kelulusan SMP dan sederajat tahun ini, ia menyebutkan bahwa terdapat lima rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang menduduki peringkat lima besar pada nilai akhir (NA) tahun ini.

Ia menjelaskan bahwa NA merupakan hasil penggabungan antara nilai UN dan nilai sekolah dengan perbandingan 60:40 dan menempatkan lima RSBI pada peringkat lima besar untuk NA, dari 66 SMP RSBI yang ada di Jateng.

Kelima SMP RSBI yang menduduki peringkat lima besar untuk tingkat Jateng, kata dia, yakni SMP Negeri 1 Magelang, SMP Negeri 2 Semarang, SMP Negeri 3 Pati, SMP Negeri 1 Boyolali, dan SMP Negeri 2 Purworejo.

Pengumuman kelulusan SMP dan sederajat, kata dia, dilakukan secara serentak pada Sabtu, 2 Juni 2012 pukul 14.00 WIB di satuan pendidikan masing-masing yang akan dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan setempat.

Selain itu, ia mengimbau kepada seluruh jajaran kepala Dinas Pendidikan kabupaten/kota untuk mengendalikan para siswa agar tidak mengungkapkan kegembiraan lulus dengan euforia, misalnya corat-coret seragam dan konvoi.

“Corat-coret seragam dan konvoi kendaraan adalah kegiatan yang tidak perlu karena justru menganggu kenyamanan. Lebih baik siswa menyumbangkan pakaian seragam kepada mereka yang lebih membutuhkan,” kata Kunto.

About these ads
Comments are closed.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 97 other followers

%d bloggers like this: